Mungkin ini sekedar sharing, mungkin juga sebuah pengakuan besar-besaran, mungkin juga sebuah perenungan. Bisa jadi, di akhir tulisan ini anda baru dapat memutuskan yang mana. Tidak pernah ada manusia yang memilih untuk dilahirkan. Kendati demikian, anda sekalian tentunya ada karena pilihan. Sederhananya, bayangkan bila kedua orangtua anda memutuskan tidak jadi menikah. Namun demikian, sepanjang hidupnya, manusia selalu diperhadapkan dengan pilihan-pilihan. Baik kecil/sepele maupun besar. Mau makan apa? Mau pergi kemana? Mau sekolah di mana? Mau kerja apa? Mau menikah dengan siapa? Mau anak berapa? Mau berteman dengan siapa? Mau memaafkan kesalahannya atau tidak? Mau berbuat baik atau tidak? Mau cuekin atau tidak? Mau diam atau bicara? Berawal dari dua setengah tahun sebelumnya, saya memiliki pengharapan yang cukup tinggi pada sebuah institusi, saya memilih sebuah jalan yang dirasa aman untuk masa depan. Namun ternyata sal...
Bagian 1 nya mana? Mungkin anda akan bertanya demikian. Jawabannya ada. Tetapi belum selesai saya tulis.. kita langsung saja lompat ke sini. Jadi tahun ini saya punya beberapa resolusi. Salah satu resolusi itu adalah melibatkan sebuah bidang yang sudah lama menjadi passion saya, tetapi saya biarkan begitu saja karena tuntutan kehidupan. Alhasil, ternyata passion itu terus menerus mengejar saya dan akhirnya setelah perenungan panjang, dibantu pula oleh psikolog saya yang baik hati dan bijaksana, Mbak A, saya pun memutuskan untuk meladeni passion ini dengan segala resikonya. Tentu saja, passion yang saya maksud itu adalah menjadi seorang penulis. Dear Lord Almighty. Sampai hari ini saya tidak tahu apakah yang sedang saya lakukan ini tepat atau tidak. Saya me-neglect karir yang menghasilkan banyak uang ini demi mengejar ketenangan batin. Namun demikian, batin ini tidak kunjung tenang juga, karena kebutuhan material. Alamakjang. Saya mengikuti kelas-kelas menulis, mulai dari kelas men...
Halo. Membaca itu menyenangkan , bukan ? Semoga harimu menggembirakan . Selesai membaca carikan kertas yang dilipat itu, melintaslah gambaran-gambaran asing dalam benak Raff. Cepat seperti kejapan mata, namun kuat terpatri bak pengalaman sendiri. Napas Raff seolah terhenti kala mendapati gambaran lembut hati yang menyelipkan kertas itu di dalam buku Sejarah Alkimia. Sayang, wajahnya tak terlihat. Satu-satunya yang didapat dari sosok itu selain kelembutan hatinya, adalah jubah merah muda yang dikenakannya. Dahulu Raff mengutuk kekuatan membaca kenangan benda yang dimilikinya itu, sebab hampir selevel para Nihil -manusia tanpa kekuatan sihir. Kekuatan yang menjadi kekhususan keluarga Vizori ini, seharusnya menjadi kekuatan yang sangat berguna. Seorang Vizori biasanya kerap diminta bantuan oleh pihak kepolisian untuk memecah kasus sulit. Ged, kakak Raff, banyak berhubungan dengan para detektif sejak usia dua belas tahun sebelum kemudian mendaftar sekolah kepolisian. Itu empat tahun...
Komentar
Posting Komentar